Rabu, 29 Januari 2014

Arti Seorang Muslimah Sejati


Arti Seorang Muslimah Sejati

Assalamu’alaikum muslimah ???
Kalian pasti tahu kan arti kata “muslimah” ,  za,,, singkat katanya sih arti dari kata itu adalah wanita yang memeluk agama Islam. Tapi apa kah ukhti memaknai kata itu dengan makna yang sesimple itu ? Tentu tidak kan ukhti? Ya,, kita seagama islam kita tidak tahu apa yang harus dilakukan seorang muslimah baik sebagai hamba Alloh SWT, sebagai anak, sebagai istri, sebagai ibu, sebagai makhluk social, sebagai rakyat, dan masih banyak lagi. Tentu seorang muslimah sejati menjalankan peran-peran itu tidak bisa semau kita sendiri. Tapi kita mempunyai dasar dalam melakukan peran itu .Tahukah kamu ukhti ???apakah yang menjadi standard kitadalam menjalankan kehidupan di dunia yang fatamorgana ini yaitu hukum – hukum syariat Alloh yang telah diajarkan oleh Rasululloh SAW. Menurutku muslimah sejati itu bisa kita artikan dengan “al-maratush sholihah”
Yaitu wanita yang sholihah. Bahkan dalam Q.S An-Nisa’ ayat 34 Alloh SWT berfirman:“......Maka wanita solihah itu adalah wanita yang taat beribadah kepada Allah dan taat kepada suaminya , sebagaimana Allah telah menjaga dirinya…….”.(An-Nisa:34).
Subhanalloh… dari firman Alloh tersebut kita bisa simpulkan bahwa wanita sholihah adalah wanita yang taatberibadah kepada Alloh SWT dan taat kepada suaminya sebagaimana Alloh telah menjaga dirinya.
Wahai saudaraku muslimah,,,
Kita sebagai muslimah harus bangga dan tersanjung menjadi seorang muslimah karena sebaik-baik perhiasan di dunia adalah wanita yang sholihah sebagai mana hadits Rasululloh SAW.
Abdullah bin Amr  meriwayatkan sabda Rasulullah s.a.w.:“Sesungguhnya dunia itu  adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita solehah .” (Hadis Riwayat. Muslim no. 1467).
Subhanalloh,,, begitu indahnya Alloh SWT memuliakan wanita yang sholihah. Namun saat ini banyak wanita muslimah yang tidak sadar akan hal itu. Bahkan rasa malu yang seharusnya menjadi mahkota kemuliaan seorang wanita muslimah kini telah pudar. Padahal Rasululloh SAW bersabda : “Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain,“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”(HR. Al Hakim dalam Mustadroknya 1/73. Al Hakim mengatakan sesuai syarat Bukhari Muslim, begitu pula Adz Dzahabi).
Dari sabda Rasululloh SAW di atas kita dapat simpulkan bahwa rasa malu adalah
Identitas akhlaq Islam. Bahkan malu tak terlepas dari iman dan sebaliknya . Khususnya seorang muslimah, rasa malu adalah mahkota kemuliaannya .Rasa malu yang sudah seharusnya ada dalam diri jiwa muslimah itu sebenarnya bukan tanpa memberikan kemashlahatan tapi tentunya memberikan kemashlahatan kepadakita, karena Alloh SWT memerintahkan sesuatu pasti akan memberikan mashlahat bagi kita, dan sebaliknya Alloh SWT melarang sesuatu pasti akan mendatangkan mudlarat untuk kita. Kemashlahatan itu antara lain adalah membuat kita sebagai muslimah menjadi sosok insan yang terhormat dan dimuliakan, baik di hadapan Alloh SWT maupun di hadapan manusia.
Namun di zaman globalisasi ini, rasa malu yang seharusnya melekat dalam jiwa muslimah kini telah pudar. Mereka sendirilah yang mengingkari penciptaan wanita sebagai perhiasan dunia dengan keshalihannya .Mereka sendirilah yang menodai diri mereka sendiri antara lain dengan meninggalkan rasa malu dalam jiwanya.  Kita bias mudah saksikan banyak wanita yang bangga jika dirinya bias masuk dalam kontes-kontes kecantikan. Mereka seolah-olah menjual harga diri mereka dengan pundi-pundi rupiah atau dengan pujian semata. Mereka tidak hanya menjual kecantikan mereka tapi mereka juga dengan bangganya mengobral tubuh mereka. Mereka seakan-akan lupa dengan kewajiban mereka menutup aurat mereka. Merekapun juga meninggalkan rasa malu yang seharusnya menjadi sebaik-baik mahkota kemuliaannya. Na’udzubillah. Semoga Alloh SWT melindungi dari demikian itu .
Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Kisah Mutiara Seorang Muslimah Sholihah


Wanita Pertama yang Masuk Surga

          Suatu ketika,Fatimah bertanya kepada Rasululloh SAW. Siapakah perempuan yang kelak pertama kali masuk surga ? Rasululloh menjawab,dia adalah seorang wanita yang bernama Mutiah.
          Fatimah terkejut.Ternyata bukan dirinya, seperti yang dibayangkannya. Mengapa justru orang lain, padahal dia adalah putri Rasululloh sendiri? Maka timbullah keinginan Fatimah untuk mengetahui siapakah gerangan perempuan itu? Dan apakah yang telah diperbuatnya hingga dia mendapat kehormatan yang begitu tinggi ?
          Setelah minta izin kepada suaminya, Ali bin Abi Tholib, Fatimah berangkat mencari rumah kediaman Mutiah. Putranya yang masih kecil bernama Hasan diajak ikut serta.
          Ketika tiba di rumah Mutiah,Fatimah mengetuk pintu seraya memberi salam,”Assalamu’alaikum……..!”
          “Wa’alaikumussalam! Siapa di luar?” terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam rumah.Suaranya cerah dan merdu.
          “Saya Fatimah,putri Rasululloh,” sahut Fatimah kembali.
          “Alhamdulillah,alangkah bahagia saya hari ini Fatimah,putri Rasululloh,sudi berkunjung ke gubug saya,”terdengar kembali jawaban dari dalam.Suara itu terdengar ceria dan semakin mendekat ke pintu.
          “Aku ditemani Hasan,”jawab Fatimah.
          “Aduh,maaf ya,”kata Mutiah,suaranya terdengar menyesal.”Saya belum mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki.”
          “Tapi Hasan kan masih kecil?”jelas Fatimah
          “Meskipun kecil,Hasan adalah seorang laki-laki. Besok saja Anda datang lagi,ya? Saya akan minta izin dulu kepada suami saya,” kata Mutiah dengan menyesal.
          Sambil menggeleng-gelengkan kepala, Fatimah pamit dan kembali pulang.    Besoknya,Fatimah datang lagi ke rumah Mutiah,kali ini ditemani oleh Hasan dan Husain. Bertiga mereka mendatangi rumah Mutiah. Setelah memberi salam dan dijawab gembira,masih dari dalam rumah Mutiah bertanya;
          “Kau masih ditemani oleh Hasan, Fatimah?Suami saya sudah memberi izin”.
          “Ya,juga ditemani oleh Husain,”jawab Fatimah.
          “Ha,kenapa kemarin tidak bilang? Yang dapat izin cuma Hasan,dan Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerimanya juga,” dengan perasaan menyesal, Mutiah kali ini juga menolak.
          Hari itu Fatimah gagal lagi bertemu dengan Mutiah.Dan keesokan harinya Fatimah kembali lagi, mereka disambut baik oleh perempuan itu di rumahnya.
          Keadaan rumah Mutiah sangat sederhana, tak ada satupun perabot mewah yang menghiasi rumah itu. Namun,semuanya teratur rapi. Tempat tidur yang terbuat dengan kasar juga terlihat bersih, alasnya yang putih, dan baru dicuci. Bau dalam ruangan itu harum dan sangat segar, membuat orang betah tinggal di rumah.
          Fatimah sangat kagum melihat suasana yang menyenangkan itu, sehingga Hasan dan Husain yang biasanya tak begitu betah di rumah orang, kali ini nampak asyik bermain-main.
          “Maaf ya, saya tak bisa menemani Fatimah duduk dengan tenang, sebab saya harus menyiapkan makan buat suami saya,”kata Mutiah sambil mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu.
          Mendekati tengah hari, masakan itu sudah siap semuanya, kemudian ditaruh diatas nampan.Mutiah mengambil cambuk, yang juga ditaruh di atas nampan.
          “Suamimubekerja dimana?” Tanya Fatimah.
          “Di lading,”jawab Mutiah.
          “Pengembala?” Tanya Fatimah lagi.
          “Bukan.Bercocok tanam.”
          “Tapi,mengapa kau bawakan cambuk?”
          “Oh itu?” sahut Mutiah dengan tersenyum.”Cambuk itu kusediakan untuk keperluan lain. Maksudnya begini, kalau suami saya sedang makan, lalu kutanyakan apakah masakan saya cocok atau tidak? Kalau dia mengatakan cocok, maka tak akan terjadi apa-apa. Tetapi kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya, agar punggung saya dicambuknya, sebab berarti saya tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya.”
          “Apakah itu kehendak suamimu?” Tanya Fatimah keheranan.
          “Oh,bukan!Suami saya adalah seorang yang penuh kasih saying.Ini semua adalah kehendakku sendiri, agar aku jangan sampai menjadi istri yang durhaka kepada suami.”
          Mendengar penjelasan itu, Fatimah menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian ia meminta diri, pamit pulang.
          “Pantas kalau Mutiah kelak menjadi seorang perempuan yang pertama kali masuk surga,”kata Fatimah dalam hati, di tengah perjalanannya pulang,”Dia sangat berbakti kepada suami dengan tulus.Perilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambing perbudakan wanita oleh kaum lelaki. Tapi,merupakan cermin bagi citra ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan perilaku yang sama.

 
Template designed by Liza Burhan